Sang Buta Membawa Pelita

Sejujurnya, sekiranya kita memberi pasti kita pasti akan menerima. Di saat kita menolong orang lain, pada saat yang sama kita sedang menolong diri sendiri. Apa yang kita lakukan untuk orang lain juga sebenarnya kita sedang melakukannya untuk diri kita sendiri.

Inilah rahasia kehidupan yang tersembunyi bagi kebanyakkan orang.
Bukan kerana mereka tidak melihat kebenaran ini, tetapi mereka tidak mempercayainya.

Kerana itu, lebih banyak orang senang  menerima daripada memberi, lebih suka ditolong daripada menolong. Hidup hanya berorientasi pada diri sendiri!

Teringat sebuah kisah yang sangat memberikan tauladan;

Seorang buta sedang berjalan dengan tongkatnya di malam hari. Di tangan kanannya memegang tongkat, sementara tangan kirinya membawa lampu.

Pemandangan ini menghairankan bagi seorang lelaki yang kebetulan melihatnya. Kerana itu dia bertanya; “Mengapa anda berjalan membawa lampu?”

Orang buta itu menjawab; “Sebagai penerangan”.

Dengan hairan lelaki itu bertanya lagi; “Tetapi, bukankah anda buta dan tetap sahaja tidak mampu melihat jalan meskipun terang benderang?” 

Sambil tersenyum, orang buta itu menjawab; “Walau saya tidak boleh melihat, pasti orang lain melihatnya. Selain membuat jalanan menjadi terang, hal ini juga menghindarkan orang lain untuk tidak merempuh saya…”

Allahu, di saat kita melakukan sesuatu untuk orang lain, sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri. Inilah rahasia kehidupan untuk hidup yang penuh berkah, berkelimpahan dan bahagia.

“Apa yang kita lakukan untuk orang lain, suatu saat pasti akan terjadi kepada kita”. 

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan.

Si buta mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sedar bahawa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan ‘pulang’, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati kerana menyedari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain, ia juga belajar menjadi pemaaf.

Lelaki tadi mewakili kebanyakkan orang pada umumnya, yang kurang kesedaran dan peduli. Terkadang, mereka memilih untuk ‘membuta’ walaupun sebenarnya mereka mampu melihat.

Sudahkah kita menyuluh pelita di dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang atau bahkan nyaris padam?

Jadilah pelita buat diri sendiri juga turut menyinari mereka di sekeliling kita. InsyaAllah anda pasti mampu melakukannya. Allahumma Ameen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s