Pengemis – Antara Anugerah Allah Buat Kita

“Sememangnya pengemis adalah anugerah Allah kerana, ia mengambil sedikit bahagian duniamu agar kamu mendapat bahagian yang lebih besar di akhirat! Ia menyimpan untukmu sesuatu yang kelak akan kamu temukan di akhirat, di hari ketika kamu sangat memerlukanya.”

Syeikh Abdul Qadir Al Jilani


Bagaimana cara berbuat baik kepada semua orang dan memandangnya dengan kasih sayang, Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladannya. Berkat keluhuran akhlak Nabi SAW, orang ramai berbondong-bondong masuk Islam dan mengikuti ajarannya.

Dikisahkan, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata;

“Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Hari demi hari pengemis Yahudi itu tetap mencela Rasulullah. Kejadian itu terus berlangsung di suatu bahagian Pasar Madinah. Sebagai Nabi yang diberi wahyu, Rasulullah tentu tahu apa yang dilakukan pengemis Yahudi buta itu.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Saat Rasulullah menyuapinya, si pengemis Yahudi itu tetap berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah SAW menyuapi pengemis Yahudi itu hingga menjelang beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari sahabat Nabi, Abu Bakar RA berkunjung ke rumah puterinya Aisyah RA yang juga istri Rasulullah. Beliau bertanya kepada putrinya;

“Anakku, adakah sunnah kekasihku (Nabi Muhammad) yang belum aku kerjakan?”

Aisyah menjawab ayahnya; “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.

“Apakah Itu?”, tanya Abu Bakar.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah.

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak; “Siapakah kamu?”.

Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa”.

“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku, tangan ini tidak susah memegang dan mulut ini tidak susah untuk mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu dengan mulutnya. Setelah itu ia berikan padaku,” kata pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu; “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, ia pun menangis sedih dan kemudian berkata;

“Benarkah demikian?

Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”

Pengemis Yahudi buta itu akhirnya bersyahadah di hadapan Abu Bakar.

Demikian kisah Rasulullah dengan pengemis Yahudi buta yang begitu menyentuh hati. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita betapa kelembutan akhlak dan budi pekerti yang baik dapat mendatangkan kebaikan kepada orang lain.

Kisah Rasulullah dan Pengemis Buta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s